Jangan Pernah Putus Asa

 

 

Setiap diri manusia tentu pernah melakukan kesalahan.

Hal itu amatlah wajar, karena manusia tentu tidak pernah lepas dari salah dan khilaf.

Karena manusia adalah tempatnya kesalahan dan lupa.

Namun Islam adalah agama yang penuh pengampunan terhadap kesalahan dan khilaf yang dilakukan dalam kehidupan sehari-harinya.

Untuk itulah adanya taubat yang diberikan sebagai bentuk kesempatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala  untuk umat manusia yang benar-benar menyadari kesalahan dan ingin memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih beriman dan bertakwa di jalan Allah.

Pada kenyataannya, tak sedikit manusia yang putus asa, pasrah, dan tidak berupaya untuk kembali pada Allah SWT. Padahal banyak dalil Al Quran dan Hadits yang menyatakan bahwa Allah SWT selalu membuka pintu AmpunanNYA bagi siapapun, bagi pendosa, bagi yang telah membunuh 100 nyawa, bagi pezina, dan bagi pemakan harta haram sekalipun.

 

Imam Muslim dalam Shahihnya , dan juga para penulis kitab sunnah telah meriwayatkan sebuah kisah taubat yang paling mengagumkan yang diketahui oleh manusia. Pada suatu hari Rasulullah

duduk di dalam masjid, sementara para sahabat beliau duduk mengitari beliau. Beliau mengajari, mendidik dan mensucikan (hati) mereka.

Majelis tersebut dipenuhi oleh sahabat besar Nabi .

 

Tiba-tiba datanglah seorang wanita berhijab masuk ke pintu masjid. Kemudian Rasul pun diam, dan diam pula para sahabat beliau .

Wanita tersebut menghadap dengan perlahan, dia berjalan dengan penuh gentar dan takut, dia lemparkan segenap penilaian dan pertimbangan manusia, dia lupakan aib dan keburukan, tidak takut kepada manusia, atau mata manusia dan apa yang akan dikatakan oleh manusia.

 

 

Hingga dia sampai kepada Rasulullah , kemudian dia berdiri di hadapan beliau, dan mengabarkan kepada beliau bahwa dia telah berzina!!

Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan (maksiat yang mewajibkan adanya) hukuman had (atasku), maka sucikanlah aku!”

Apa yang diperbuat oleh Rasulullah ?!

Apakah beliau meminta persaksian dari para sahabat atas wanita tersebut?

Tidak, bahkan memerahlah wajah beliau hingga hampir-hampir meneteskan darah. Kemudian beliau mengarahkan wajah beliau ke arah kanan, dan diam, seakan-akan beliau tidak mendengar sesuatu. Rasulullah berusaha agar wanita ini mencabut perkataannya, akan tetapi wanita tersebut adalah wanita yang istimewa, wanita yang shalihah, wanita yang keimanannya telah menancap di dalam hatinya. Maka Nabi bersabda kepadanya: “Pergilah, hingga engkau melahirkannya.”

Berlalulah bulan demi bulan, dia mengandung putranya selama 9 bulan, kemudian dia melahirkannya. Maka pada hari pertama nifasnya, diapun datang dengan membawa anaknya yang telah diselimuti kain dan berkata: “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina, inilah dia, aku telah melahirkannya, maka sucikanlah aku wahai Rasulullah!”

Maka Nabipun melihat kepada anak wanita tersebut, sementara hati beliau tercabik-cabik karena merasakan sakit dan sedih, dikarenakan beliau menghidupkan kasih sayang terhadap orang yang berbuat maksiat.

Siapa yang akan menyusui bayi tersebut jika ibunya mati? Siapakah yang akan mengurusi keperluannya jika had (hukuman) ditegakkan atas ibunya?

Maka Nabi bersabda: “Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku.”

Maka wanita itupun pergi ke rumah keluarganya, dia susui anaknya, dan tidaklah bertambah keimanannya di dalam hatinya kecuali keteguhan, seperti teguhnya gunung. Tahunpun bergulir berganti tahun. Kemudian wanita itu datang dengan membawa anaknya yang sedang memegang roti. Dia

berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!”

Dia dan keadaannya sungguh sangat menakjubkan! Iman yang bagaimanakah yang membuatnya berbuat demikian. Tiga tahun lebih atau kurang, yang demikian tidaklah menambahnya kecuali kekuatan iman.

Nabi mengambil anaknya, seakan-akan beliau membelah hati wanita tersebut dari antara kedua lambungnya. Akan tetapi ini adalah perintah Allah, keadilan langit, kebenaran yang dengannya kehidupan akan tegak.

Nabi bersabda: “Siapa yang mengkafil (mengurusi) anak ini, maka dia adalah temanku di sorga seperti ini…” Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam.

Dalam sebuah riwayat bahwa Nabi memerintahkan agar wanita itu dirajam, kemudian beliau menshalatinya. Maka berkatalah Umar : “Anda menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina.” Maka beliau bersabda:

“Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah ?” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya ini adalah rasa takut kepada Allah. Sesungguhnya itu adalah perasaan takut yang terus menerus berada pada diri wanita mukminah tersebut saat dia terjerumus ke dalam jerat-jerat syetan, dia menjawab jerat-jerat tersebut pada saat lemah. Ya, dia telah berbuat dosa, akan tetapi dia

berdiri dari dosanya dengan hati yang dipenuhi oleh iman, dan jiwa yang digerakkan oleh panasnya maksiat. Ya, dia telah berdosa, akan tetapi telah berdiri pada hatinya tempat pengagungan terhadap Dzat yang dia bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya ini adalah taubat sejati wahai hamba-hamba Allah.

 

Ya, ini taubat nashuha wahai hamba-hamba Allah.

 

 

 

Padang– Ramadhan bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan dimana seluruh umat islam bergembira menyambutnya. Bulan Ramadhan datang dengan membawa kabar gembira bagi umat Islam diseluruh dunia. Pada Bulan ini Allah akan bukakan pintu-pintu langit dan ditutupnya pintu-pintu neraka serta setan-setan akan dibelenggu.

Oleh karena itu, sebagai orang-orang yang kepada bulan Allah Ta’ala dan ingin meraih dan ingin meraih ridha-Nya sudah selayaknya kita mempersiapkan diri lahir dan bathin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam


Alhamdulillah Masjid Agung Nurul Iman pada tanggal( 30/19) telah Mengadakan Tabligh Akbar Dengan tema “Mempersiapkan amalan Ramadhan yang Menghidupkan Iman”. Tabligh Akbar ini disampaikan oleh DR. Mohamad Taufik Qulazhar, MA. Med. Menjelaskan dengan datangnya bulan ramadhan diharapkan ibadah kita meningkat dan jangan sampai jadi ramadhan yang sia-sia hingga  Ramadhan ini antara harapan dan angan-angan saja.  Acara berlangsung dengan tertib dan hikmat Dengan kajian ini diharapakan Masyarakat Kota Padang dapat mempersiapkan diri  sebaik mungkin sebelum memasuki bulan Ramadhan dan menjadi alumni Ramadhan yang Mulia.

 

Sahabat

Sahabat, pernahkah berfikir kenapa kita dipertemukan?
Allah mempertemukan kita untuk satu alasan.

Entah untuk memberi atau menerima.
Entah untuk belajar atau mengajarkan.
Entah untuk bercerita atau mendengarkan.
Entah untuk sesaat atau selamanya.
Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya.

Semua tidak ada yang sia-sia, karena Allah yang mempertemukan

Hidup kita saling mengisi, bersinggungan. Bisa jadi kehadiran kita adalah jawaban atas doa-doa sahabat kita, sebagaimana mereka pun adalah jawaban atas doa-doa kita. Jika sudah menjadi takdir Allah, meski dengan jarak beribu-ribu kilometer kita tetap akan dipertemukan, dalam satu ikatan bernama “ukhuwah”.

Di sini, selalu membuatku ingin tetap tinggal, di dalam hati dan doa-doa sahabat.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan nabi, dan bukan pula Syuhada. Tetapi, para nabi dan syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat nanti, disebabkan kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka.”

“Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami, siapa mereka?” ujar sahabat. “Agar kami bisa turut mencintai mereka.”

Lalu, Rasulullah SAW menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah tanpa ada hubungan keluarga dan nasab di antara mereka. Demi Allah, wajah-wajah mereka pada hari itu bersinar bagaikan cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak takut saat manusia takut, dan mereka tidak sedih saat manusia sedih.” (HR Abu Dawud)

Dalam Hadits lain disebutkan: “Di sekitar Arsy Allah ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya terdapat orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka bercahaya, mereka bukan nabi ataupun syuhada. Para nabi dan syuhada iri kepada mereka.”

Ketika ditanya para sahabat, “Siapakah mereka itu ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” (HR Tirmidzi)

Semoga kita adalah golongan orang-orang yang dicemburui oleh para nabi dan syuhada. Semoga ukhuwah kita yang terjalin dilandasi oleh kasih sayang dan saling mencintai karena Allah.

Sumber: https://mujahidarmada.wordpress.com/2015/09/08/ukhuwah/

Bedah Buku dan Temu Pemuda Pembebas Palestina di Masjid Agung Nurul Iman

 

 

Komunitas Sahabat Al Quds berkerjasama dengan Adara Rielief Internasional mengadakan acara Bedah Buku dan Temu Pemuda Pembebas Palestina di Masjid Agung Nurul Iman Kota Padang, Kamis (7/3).

Parade Heroik Pembebas Palestina oleh Ustadzah Nurjanah Hulwani ini, merupakan buku kedua tentang Gaza, Palestina. Buku pertama Ustadzah Nurjanah Hulwani adalah cerita perjalanan ke Gaza. Setelah satu tahun pulang dari Gaza barulah ia sadar bahwa apa yang dilihat dan dirasakan selama di Gaza Palestina sangat penting dibukukan.

Penderitaan dan teror dalam blokade, sudah dirasakan oleh penduduk Gaza selama 13 tahun lamanya. Ia bercerita, dengan pergerakan yang dipantau, penduduk Gaza lebih banyak menghabiskan waktu di dalam terowongan. Rumah yang hancur, angka kemiskinan tinggi, kekurangan obat-obatan, susah akses ke negara lain, dipisahkan dari keluarga.

Setiap hari jumat, penduduk harus naik bus dan berjalan sejauh 4 km untuk melakukan aksi perdamaian menghadapi Zionis Yahudi. Ketika sampai di lokasi aksi, para penduduk langsung berhadapan dengan peluru, gas air mata dan senjata-senjata tajam yahudi lainnya.

Perjuangan membela Palestina, tidak harus dilakukan dengan langsung datang ke Gaza Palestina. Dengan mengikuti aksi pembelaan Palestina, mengabarkan kisah duka mereka dan membantu rupiah seikhlasnya adalah aksi terbaik bagi mahasiswa dan juga pelajar di Indonesia.

Dalam Parade Heroik Pembebas Palestina, Ustadzah Nurjanah Hulwani mengisahkan seorang ibu rumah tangga yang menyisihkan uang nya sedikit sekali dalam sehari untuk membantu warga Palestina. Tidak perlu mengeluarkan sekaligus uang berjuta-juta, dengan donasi kecil yang berkelanjutan, dapat berbagi kebaikan dengan anak-anak, remaja dan lansia Gaza.

Tidak hanya itu, Ksah Aisham, seorang anak kecil penghafal A-Quran yang berjuang di Gaza. Sehari sebelum menentukan sekolah untuk jenjang pendidikannya, Ibu Aisham bertanya kemana anaknya akan melanjutkan sekolah. “Sekolah Syuhadah”, begitulah jawabnya. Sekolah yang bahkan ibunya tidak tahu tempatnya.

“Besok Ibu akan tahu di mana sekolah itu,”. Keesokan harinya, Aisham syahid dalam medan perang dalam keadaan puasa. Ia sahur berama keluarganya dan berbuka bersama Allah SWT di syurga. Begitulah cita-cita anak di Gaza, yang rohaninya terbuka menuju jalan Allah. Secara fisik, Gaza belum merdeka,namun secara rohani Penduduk Gaza telah merdeka dengan keimanan yang tenang.

Penulis: Dwi Agustini

 

 

 

Pentingnya Kejujuran

 

Seseorang bertanya kepada Nabi Muhamamd SAW, “Ya Rasulullah, terangkan kepadaku, apa yang paling berat dan apa yang paling ringan dalam beragama Islam?”

Nabi bersabda, “Yang paling ringan dalam beragama Islam adalah membaca syahadat atau kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah.”

Adapun yang paling berat adalah hidup jujur (dapat dipercaya). “Sesungguhnya, tidak ada agama bagi orang yang tidak jujur. Bahkan, tidak ada shalat dan tidak ada zakat bagi mereka yang tidak jujur.” (HR Ahmad Bazzar).

Kalau seseorang itu beriman, mestinya ia orang yang jujur. Kalau tidak jujur, berarti tidak beriman. Kalau orang rajin shalat, mestinya ia juga jujur. Kalau tidak jujur, berarti sia-sadalah shalatnya. Kalau orang sudah berzakat, mestinya ia juga jujur. Kalau tidak jujur, berarti zakatnya tidak memberi dampak positif bagi dirinya.

Anas RA berkata, “Dalam hampir setiap khutbahnya, Nabi SAW selalu berpesan tentang kejujuran.” Lalu, Anas mengutip sabda Rasulullah. “Tidak ada iman bagi orang yang tidak jujur. Tidak ada agama bagi orang yang tidak konsisten memenuhi janji.”

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu bicara dusta, berjanji palsu, dan ia berkhianat jika mendapat amanat (tidak jujur).” (HR Bukhari).

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda “Ada empat sikap yang kalau ada pada diri seseorang maka yang bersangkutan adalah munafik tulen, yaitu kalau dapat amanat, ia berkhianat (tidak jujur); kalau berkata, selalu bohong; kalau berjanji, janjinya palsu; kalau berbisnis, licik.” (HR Bukhari Muslim).

Orang jujur itu disayangi Allah. Sebaliknya, orang yang tidak jujur dimurkai Allah SWT. Kejujuran menjadi salah satu sifat utama para Nabi, salah satu akhlak penting orang-orang yang saleh.

Kejujuran adalah kunci keberkahan. Kalau kejujuran sudah hilang di tengah-tengah masyarakat, keberkahan akan hilang pula. Apabila keberkahan sudah hilang, kehidupan menjadi kering, hampa tanpa makna.

Ketika kehidupan diwarnai dengan kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dan kekecewaan… Bisa jadi semua itu datang karena ada yang telah hilang dari diri kita: kejujuran.

Sumber: https://nitafitria.wordpress.com/2010/06/23/kejujuran-itu-mahal/ dengan revisi.

Hikmah di Balik Berwudhu

 

Hamka dalam bukunya Lentera Hidup menuliskan keutamaan wudhu. Sekurang-kurangnya lima kali dalam sehari-semalam setiap Muslim diperintahkan untuk berwudhu dan mengerjakan shalat.

Meskipun wudhu belum lepas (batal), disunahkan pula memperbaruinya. Oleh ahli tasawuf, diterangkan pula hikmah wudhu itu.

Mencuci muka artinya mencuci mata, hidung, mulut, dan lidah kalau-kalau tadinya berbuat dosa ketika melihat, berkata, dan makan. Mencuci tangan dengan air dalam hati dirasa seakan-akan membasuh tangan yang telanjur berbuat salah.

Membasuh kaki dan lain-lain demikian pula. Mereka memperbuat hikmat-hikmat itu meskipun dalam hadis dan dalil tidak ditemukan.

Tujuannya adalah supaya manusia jangan membersihkan lahirnya saja, sementara batinnya masih tetap kotor. Hati yang masih tamak, loba, dan rakus, kendati sudah berwudhu, maka wudhunya lima kali sehari-semalam itu berarti tidak berbekas dan tidak diterima oleh Allah SWT, dan shalatnya pun tidak akan mampu menjauhkan dirinya dari perbuatan fakhsya (keji) dan mungkar (dibenci).

Hamka menambahkan, wudhu itu dapat menyehatkan badan. “Bukanlah kita hidup ini untuk mencari pujian dan bukan pula supaya kita paling atas di dalam segala hal. Meskipun itu tidak kita cari, kalau kita senantiasa menjaga kebersihan, kita akan dihormati orang juga.”

Sumber: http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/15/11/25/nydozk313-hikmah-wudhu-apa-kata-buya-hamka

H. Mulyadi Muslim, Lc. MA – Manfaat Taubat

 

Pada Tulisan ke empat ini, kita akan membahas betapa luasnya pintu dan kesempatan taubat yang Allah berikan kepada hambaNYA.

Hadits yang menj

adi landasan kajian kita adalah diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudry yang berarti:

““Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. 

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.” 
Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.”

ini bukanlah cerita donge

ng, hadits ini diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dan hadits ini menunjukkan betapa Rahmat ( Kasih Sayang ) Allah betapa amat sangat luas. Terjadi keributan dan perdebatan antara 2 malaikat, malaikat pertama ngotot bahwa ia di neraka, malaikat kedua ngotot bahwa ia di surge, akhirnya Allah SWT memutuskan bahwa si pembunuh masuk ke surge Allah SWT.

Dengan membaca terjemahan hadits ini , kita bisa mengambil beberap ahikmah , ditambah abhwa kita menyadari kita adalah amkhluk penuh khilaf dan dosa. Namun Allah swt masih membukakan pintu maafNYA, apa dosa besar yang telah kita lakukan ? adakah kita pernah membunuh seseorang ? adakah kita membunuh dua orang ? sedangkan di hadits tersebut ia telah membunuh 100 orang, namun karena tekad dan gigihnya ia ingin taubat, Allah SWT menerima taubatnya.

Karena Allah SWT sangat gembira ketika ada hamba NYA yang taubat dari kesalahannya. Dan kegembiraan itu, Allah buktikan dengan menjadikan tempat terakhir si pembunuh bahwa ia di surga. Kemudian, bahwa ahli ilmu lebih mulya dan bermanfaat dari pada ahli ibadah.

Dua dialog yang dilakukan si pembunuh dengan ahli ibadah dan ahli ilmu. Ahli ibadah mengatakan kepada si pembunuh bahwa ia tak bisa bertaubat, maka ia pun dibunuh, sedangkan ahli ilmu mengatakan kepada si pembunuh bahwa ia masih bisa bertaubat.

Sesuai dengan sabda nabi bahwa taubat masih bisa diterima selama nyawa belum keluar dari tenggorokan. Sebesar apapun dosa kita , ketika beristighfar maka Allah akan ampuni, sebagaimana ulama berkata : tidak ada dosa kecil yang dilakukan terus menerus kecuali menjadi dosa besar, dan tidak ada dosa besar ketika kita beristighfar kecuali menjadi hilang.

Ini menunjukkan betapa Allah maha penerima taubat. Karena semnagat beribadah tidak menjadikan jaminan kita akan dekat dengan Allah SWT. Ilmu menjadikan perbedaan yang menentukan. Sangat mungkin kekcauan terjadi ketika ahli ibadah memberikan fatwa dan arahan sesuai dengan keinginannya bukan sesuai dengan syariat yang turun dari Al Quran dan Sunnah.

Itulah yang menjadikan penentu antara ahli ilmu dan ahli ibadah, ketika kita berkomunikasi sehari-hari, kita cenderung salah dalam memahami arti komunikasi diantara kita, dan disinilah ilmu berperan dalam memahami art

i komunikasi tersebut. Di hadits ini tampak sekali perbedaan ahli ibadah tanpa ilmu dan ahli ilmu juga ahli ibadah. Dan ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dan ibadah.

Lalu apa manfaat taubat ?

Ketika kita mengakui kesalah yang kita lakukan, menyadari dosa yang ernah kita kerjakan, dengan meminta ampun kepada Allah SWT sebenarnya bentuk kesadaran kita bawha kita adalah hambaNYA, yang membedan hambda dan pencipat adalah d

i prilaku. Allah tidak pernah berbuat dosa, dan kita sebagai hamab adalah prndosa, dan kita dberi beban dan amanah yang dirangkum dalam syariat berbentuk perintah dan larangan. Dan kita diberi allah bekal akal dan fikiran, yang senantiasa diopengaruhi oleh Syaitan, dan akan ketahuan siapa yang istiwamah dan lalai berbuat dosa.

Dan taubat kita adalah sebagai bentuk pertanggung jawaban kita terhadap dosa yang kita lakukan di dunia, karena dosa itu selalu membuat hati kita cemas, jiwa gincang, dan detak ajntung tidak stabil. Ketika bertaubat ketenangan akan kita raih. Sedangkan di akhirat allah jamin dengan surganya.

Hadits yang panjang ini, memberikan kesimpulan kepada kita bahwa Allah Maha Penerima taubat.  Sebesar apapun dosa kita, sebanyak apapun maksiat kita, kita yakin kita belum pernah membunuh 100 orang, dan bisa jadi bahwa Allah akan menerima taubat kita.  Semoga kita semua akan segera menggembirakan Allah dengan taubatan nasuha kita.

Padang – 28 orang mahasiswa university sains malaysia berkunjung ke kota padang senin (21/1) mereka akan berada di kota padang selama 6 hari kedepan dalam rangka study ke berberapa tempat di sumbar.dan di hari pertama mereka ya itu mengunjungi masjid agung nurul iman kota padang rombongan yang dipimpin oleh Dr. Abu Bakar Bin Hasana di sambut Langsung oleh  Ketua Masjid Agung Nurul Iman Mulyadi Muslim.Lc.MA Dan Bersama Sekum Dr. Sudarman dan beserta pegawai

 

Kegiatan pertama dilakukan di Masjid Agung Nurul Iman kegiatan diawali dengan ramah tamah,presentasi tentang perkembangan islam di ranah minang oleh Dr.sudarman dan simulasi pemakain hijab ala masyarakat malaysia dan Minangkabau

 

Sejak dahulu hingga sekarang hubungan masyarakat minang dengan malaysia ada kesamaan adat dan budaya sebelum indonesia dan malaysia menjadi sebuah negara kita sudah bernaung dalam himpunan Nusantara dan yang lebih menguatkan  ikatan itu adalah dalam akidah atau ikatan agama karena kita sesama muslim maka kita bersaudara 

Pelatihan Manasik KBIH Nurul Iman Resmi di Buka

 

Ratusan Jamaah Calon Haji memenuhi Masjid Agung Nurul Iman dalam rangka menghadiri pembukaan manasik KBIH Nurul Iman. Pengurus KBIH hadir pada acara ini.

Dr Sudarman, selaku Sekretaris Umum Masjid Agung Nurul Iman memberikan kata sambutan berupa informasi perkembangan masjid kepada para jamaah, “ Alhamdulillah, Masjid Kita sudah memiliki sertfikat tanah, sehingga kita akan mulai merencanakan tahap pembangunan jangka panjang” Ujar Sudarman.

Ketua KBIH Nurul Iman, H Akhyarli mengatakan “ KBIH Nurul Iman memiliki beberapa keistimewaan yang akan membuat calon jamaah haji menjadi puas dan maksimal dalam mempersiapkan diri menuju Tanah Haram, Diantara keistimewaan itu adalah Para Guru KBIH Nurul Iman sangat Berpengalaman dan Ahli di bidang ini.”

Ketua Harian KBIH, Dr Yufni Faisol juga mengatakan “ setiap Jam 08.00 pagi, akan selalu diputar Film Manasik, sejarah Makkah dan Madinah, agar Calon Jamaah Haji sudah siap dengan materi yang akan disampaikan setiap hari Ahad .”

“Saya, Istri dan Anak saya memilih KBIH Nurul Iman karena dekat dari rumah, lokasinya yg strategis, kondusif, bebas parkir, teman teman saya yang sudah haji semuanya alumni KBIH Nurul Iman, dan kita di bina untuk menjadi Jamaah Mandiri. “ujar Pak Agustian. semoga Kelak semua persiapan lancar dan bisa beribadah dengan benar dan memperoleh Haji yang mabrur.

Masjid Agung Nurul Iman salurkan Bantuan untuk Palu dan Lombok

 

Masjid Agung Nurul Iman menyalurkan bantuan untuk Korban Gempa Palu dan Lombok, bantuan tersebut berasal dari Infak Jamaah Dan Wakaf Al Quran . Total dana yang dikumpulkan dalam satu bulan mencapai 10 juta rupiah.

Bantuan yang akan disalurkan berupa 400 Al Quran dan dana melalui empat Lembaga Kemanusiaan di Kota Padang. Mulyadi Muslim, selaku ketua harian masjid agung nurul iman mengatakan “ Penyaluran ini akan selalu kita laksanakan ketika negeri kita tertimpa musibah, dan bersinergi dengan lembaga kemanusiaan yang ada “

Dompet Dhuafa Singgalang, ACT, Yakesma, dan Lembaga Dakwah dan Sosial Ar Risalah menjadi lembaga yang dipercaya Pengurus untuk menyalurkan bantuan tersebut.

Masing masing lembaga menerima 100 buah Al Quran yang telah diwakafkan dan donasi sebesar 1.750.000 yang telah di infakkan oleh Jamaah Masjid Agung Nurul Iman.

Harapan pengurus, dengan penyaluran ini, para korban masih bisa membaca Al Quran walau sedang ditimpa musibah dan tidak menjauhkan diri dari Allah SWT.(Abah)