H. Mulyadi Muslim, Lc. MA – Manfaat Taubat

 

Pada Tulisan ke empat ini, kita akan membahas betapa luasnya pintu dan kesempatan taubat yang Allah berikan kepada hambaNYA.

Hadits yang menj

adi landasan kajian kita adalah diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudry yang berarti:

““Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. 

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.” 
Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.”

ini bukanlah cerita donge

ng, hadits ini diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dan hadits ini menunjukkan betapa Rahmat ( Kasih Sayang ) Allah betapa amat sangat luas. Terjadi keributan dan perdebatan antara 2 malaikat, malaikat pertama ngotot bahwa ia di neraka, malaikat kedua ngotot bahwa ia di surge, akhirnya Allah SWT memutuskan bahwa si pembunuh masuk ke surge Allah SWT.

Dengan membaca terjemahan hadits ini , kita bisa mengambil beberap ahikmah , ditambah abhwa kita menyadari kita adalah amkhluk penuh khilaf dan dosa. Namun Allah swt masih membukakan pintu maafNYA, apa dosa besar yang telah kita lakukan ? adakah kita pernah membunuh seseorang ? adakah kita membunuh dua orang ? sedangkan di hadits tersebut ia telah membunuh 100 orang, namun karena tekad dan gigihnya ia ingin taubat, Allah SWT menerima taubatnya.

Karena Allah SWT sangat gembira ketika ada hamba NYA yang taubat dari kesalahannya. Dan kegembiraan itu, Allah buktikan dengan menjadikan tempat terakhir si pembunuh bahwa ia di surga. Kemudian, bahwa ahli ilmu lebih mulya dan bermanfaat dari pada ahli ibadah.

Dua dialog yang dilakukan si pembunuh dengan ahli ibadah dan ahli ilmu. Ahli ibadah mengatakan kepada si pembunuh bahwa ia tak bisa bertaubat, maka ia pun dibunuh, sedangkan ahli ilmu mengatakan kepada si pembunuh bahwa ia masih bisa bertaubat.

Sesuai dengan sabda nabi bahwa taubat masih bisa diterima selama nyawa belum keluar dari tenggorokan. Sebesar apapun dosa kita , ketika beristighfar maka Allah akan ampuni, sebagaimana ulama berkata : tidak ada dosa kecil yang dilakukan terus menerus kecuali menjadi dosa besar, dan tidak ada dosa besar ketika kita beristighfar kecuali menjadi hilang.

Ini menunjukkan betapa Allah maha penerima taubat. Karena semnagat beribadah tidak menjadikan jaminan kita akan dekat dengan Allah SWT. Ilmu menjadikan perbedaan yang menentukan. Sangat mungkin kekcauan terjadi ketika ahli ibadah memberikan fatwa dan arahan sesuai dengan keinginannya bukan sesuai dengan syariat yang turun dari Al Quran dan Sunnah.

Itulah yang menjadikan penentu antara ahli ilmu dan ahli ibadah, ketika kita berkomunikasi sehari-hari, kita cenderung salah dalam memahami arti komunikasi diantara kita, dan disinilah ilmu berperan dalam memahami art

i komunikasi tersebut. Di hadits ini tampak sekali perbedaan ahli ibadah tanpa ilmu dan ahli ilmu juga ahli ibadah. Dan ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dan ibadah.

Lalu apa manfaat taubat ?

Ketika kita mengakui kesalah yang kita lakukan, menyadari dosa yang ernah kita kerjakan, dengan meminta ampun kepada Allah SWT sebenarnya bentuk kesadaran kita bawha kita adalah hambaNYA, yang membedan hambda dan pencipat adalah d

i prilaku. Allah tidak pernah berbuat dosa, dan kita sebagai hamab adalah prndosa, dan kita dberi beban dan amanah yang dirangkum dalam syariat berbentuk perintah dan larangan. Dan kita diberi allah bekal akal dan fikiran, yang senantiasa diopengaruhi oleh Syaitan, dan akan ketahuan siapa yang istiwamah dan lalai berbuat dosa.

Dan taubat kita adalah sebagai bentuk pertanggung jawaban kita terhadap dosa yang kita lakukan di dunia, karena dosa itu selalu membuat hati kita cemas, jiwa gincang, dan detak ajntung tidak stabil. Ketika bertaubat ketenangan akan kita raih. Sedangkan di akhirat allah jamin dengan surganya.

Hadits yang panjang ini, memberikan kesimpulan kepada kita bahwa Allah Maha Penerima taubat.  Sebesar apapun dosa kita, sebanyak apapun maksiat kita, kita yakin kita belum pernah membunuh 100 orang, dan bisa jadi bahwa Allah akan menerima taubat kita.  Semoga kita semua akan segera menggembirakan Allah dengan taubatan nasuha kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *