Bedah Buku dan Temu Pemuda Pembebas Palestina di Masjid Agung Nurul Iman

 

 

Komunitas Sahabat Al Quds berkerjasama dengan Adara Rielief Internasional mengadakan acara Bedah Buku dan Temu Pemuda Pembebas Palestina di Masjid Agung Nurul Iman Kota Padang, Kamis (7/3).

Parade Heroik Pembebas Palestina oleh Ustadzah Nurjanah Hulwani ini, merupakan buku kedua tentang Gaza, Palestina. Buku pertama Ustadzah Nurjanah Hulwani adalah cerita perjalanan ke Gaza. Setelah satu tahun pulang dari Gaza barulah ia sadar bahwa apa yang dilihat dan dirasakan selama di Gaza Palestina sangat penting dibukukan.

Penderitaan dan teror dalam blokade, sudah dirasakan oleh penduduk Gaza selama 13 tahun lamanya. Ia bercerita, dengan pergerakan yang dipantau, penduduk Gaza lebih banyak menghabiskan waktu di dalam terowongan. Rumah yang hancur, angka kemiskinan tinggi, kekurangan obat-obatan, susah akses ke negara lain, dipisahkan dari keluarga.

Setiap hari jumat, penduduk harus naik bus dan berjalan sejauh 4 km untuk melakukan aksi perdamaian menghadapi Zionis Yahudi. Ketika sampai di lokasi aksi, para penduduk langsung berhadapan dengan peluru, gas air mata dan senjata-senjata tajam yahudi lainnya.

Perjuangan membela Palestina, tidak harus dilakukan dengan langsung datang ke Gaza Palestina. Dengan mengikuti aksi pembelaan Palestina, mengabarkan kisah duka mereka dan membantu rupiah seikhlasnya adalah aksi terbaik bagi mahasiswa dan juga pelajar di Indonesia.

Dalam Parade Heroik Pembebas Palestina, Ustadzah Nurjanah Hulwani mengisahkan seorang ibu rumah tangga yang menyisihkan uang nya sedikit sekali dalam sehari untuk membantu warga Palestina. Tidak perlu mengeluarkan sekaligus uang berjuta-juta, dengan donasi kecil yang berkelanjutan, dapat berbagi kebaikan dengan anak-anak, remaja dan lansia Gaza.

Tidak hanya itu, Ksah Aisham, seorang anak kecil penghafal A-Quran yang berjuang di Gaza. Sehari sebelum menentukan sekolah untuk jenjang pendidikannya, Ibu Aisham bertanya kemana anaknya akan melanjutkan sekolah. “Sekolah Syuhadah”, begitulah jawabnya. Sekolah yang bahkan ibunya tidak tahu tempatnya.

“Besok Ibu akan tahu di mana sekolah itu,”. Keesokan harinya, Aisham syahid dalam medan perang dalam keadaan puasa. Ia sahur berama keluarganya dan berbuka bersama Allah SWT di syurga. Begitulah cita-cita anak di Gaza, yang rohaninya terbuka menuju jalan Allah. Secara fisik, Gaza belum merdeka,namun secara rohani Penduduk Gaza telah merdeka dengan keimanan yang tenang.

Penulis: Dwi Agustini

 

 

 

  • Add Your Comment