Hati-hati, Pemikiran sesat kaum Jabariyah di tengah wabah Covid-19.

Majelis Ulama Indonesia beserta Ulama negara Islam lainnya, Ulama Al Azhar, Uni Emirat Arab, Qatar, kuwait telah mengeluarkan fatwa agar umat Islam untuk sementara waktu agar tidak mendatangi keramaian termasuk ke Masjid untuk sholat jumat dan berjamaah.

Fatwa yang dikeluarkan oleh ulama ini merupakan PENYELAMATAN NYAWA SEORANG MUSLIM yang oleh Nabi Muhammad SAW lebih utama dibandingkan dengan robohnya ka’bah. Dengan keluarnya fatwa untuk kemaslahatan ummat, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa fatwa tersebut menjauhkan umat islam dari Masjid dan mengosongkannya. Mereka dikenal dengan Sakte Sesat Jabariyah yang berideologi Fatalis bahwa semua yang terjadi pada Manusia tidak ada sebab sama sekali dari manusia, semuanya takdir Allah sehingga manusia cukup pasrah saja, menerima takdir, dan tawakkal. Bahkan sampai mereka menuduh fatwa tersebut salah, padahal merekalah yang tidak memiliki ilmu tentangnya.

Pemikiran seperti ini sedikit banyaknya mempengaruhi sebagian umat islam dikalangan awam tentang ilmu Fiqih. Gerakan Jabariyah hari ini mulai menampakkan diri dengan adanya protes-protes menolak Fatwa MUI yang membolahkan tidak sholat jumat dan jamaah terkait Covid-19.

Kaum Jabariyah mengira bahwa ulama-ulama adalah orang-orang bodoh yang tidak memiliki iman, penakut, dan tidak menganggap fungsi masjid sebagai tempat pembinaan dan perjuangan umat. Padahal faktanya merekalah yang tidak memiliki ilmu, tidak paham Fiqih, bodoh, dan bakhil.

Tentunya kalau diperhatikan fatwa-fatwa tersebut tidak sembarangan diterapkan didaerah-daerah di Indonesia. Masing-masing daerah di Indonesia memiliki tingkat kedaruratan yang berbeda, sehingga sangat mungkin fatwa tersebut belum pas dilaksanakan dibeberapa daerah di Indonesia.

Namun sangat tidak dibenarkan pula jika menganggap fatwa tersebut sebagai lemahnya iman atau ajakan untuk lemahnya iman dan meninggalkan masjid. Inilah letak kesalahan dan kesesatan pemikiran sakte Jabariyah menanggapi Covid-19, tidak memiliki ilmu namun memiliki semangat yang tinggi.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (Surat An-Niisa Ayat 83)

  • Add Your Comment