Jangan Pernah Putus Asa

 

 

Setiap diri manusia tentu pernah melakukan kesalahan.

Hal itu amatlah wajar, karena manusia tentu tidak pernah lepas dari salah dan khilaf.

Karena manusia adalah tempatnya kesalahan dan lupa.

Namun Islam adalah agama yang penuh pengampunan terhadap kesalahan dan khilaf yang dilakukan dalam kehidupan sehari-harinya.

Untuk itulah adanya taubat yang diberikan sebagai bentuk kesempatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala  untuk umat manusia yang benar-benar menyadari kesalahan dan ingin memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih beriman dan bertakwa di jalan Allah.

Pada kenyataannya, tak sedikit manusia yang putus asa, pasrah, dan tidak berupaya untuk kembali pada Allah SWT. Padahal banyak dalil Al Quran dan Hadits yang menyatakan bahwa Allah SWT selalu membuka pintu AmpunanNYA bagi siapapun, bagi pendosa, bagi yang telah membunuh 100 nyawa, bagi pezina, dan bagi pemakan harta haram sekalipun.

 

Imam Muslim dalam Shahihnya , dan juga para penulis kitab sunnah telah meriwayatkan sebuah kisah taubat yang paling mengagumkan yang diketahui oleh manusia. Pada suatu hari Rasulullah

duduk di dalam masjid, sementara para sahabat beliau duduk mengitari beliau. Beliau mengajari, mendidik dan mensucikan (hati) mereka.

Majelis tersebut dipenuhi oleh sahabat besar Nabi .

 

Tiba-tiba datanglah seorang wanita berhijab masuk ke pintu masjid. Kemudian Rasul pun diam, dan diam pula para sahabat beliau .

Wanita tersebut menghadap dengan perlahan, dia berjalan dengan penuh gentar dan takut, dia lemparkan segenap penilaian dan pertimbangan manusia, dia lupakan aib dan keburukan, tidak takut kepada manusia, atau mata manusia dan apa yang akan dikatakan oleh manusia.

 

 

Hingga dia sampai kepada Rasulullah , kemudian dia berdiri di hadapan beliau, dan mengabarkan kepada beliau bahwa dia telah berzina!!

Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan (maksiat yang mewajibkan adanya) hukuman had (atasku), maka sucikanlah aku!”

Apa yang diperbuat oleh Rasulullah ?!

Apakah beliau meminta persaksian dari para sahabat atas wanita tersebut?

Tidak, bahkan memerahlah wajah beliau hingga hampir-hampir meneteskan darah. Kemudian beliau mengarahkan wajah beliau ke arah kanan, dan diam, seakan-akan beliau tidak mendengar sesuatu. Rasulullah berusaha agar wanita ini mencabut perkataannya, akan tetapi wanita tersebut adalah wanita yang istimewa, wanita yang shalihah, wanita yang keimanannya telah menancap di dalam hatinya. Maka Nabi bersabda kepadanya: “Pergilah, hingga engkau melahirkannya.”

Berlalulah bulan demi bulan, dia mengandung putranya selama 9 bulan, kemudian dia melahirkannya. Maka pada hari pertama nifasnya, diapun datang dengan membawa anaknya yang telah diselimuti kain dan berkata: “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina, inilah dia, aku telah melahirkannya, maka sucikanlah aku wahai Rasulullah!”

Maka Nabipun melihat kepada anak wanita tersebut, sementara hati beliau tercabik-cabik karena merasakan sakit dan sedih, dikarenakan beliau menghidupkan kasih sayang terhadap orang yang berbuat maksiat.

Siapa yang akan menyusui bayi tersebut jika ibunya mati? Siapakah yang akan mengurusi keperluannya jika had (hukuman) ditegakkan atas ibunya?

Maka Nabi bersabda: “Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku.”

Maka wanita itupun pergi ke rumah keluarganya, dia susui anaknya, dan tidaklah bertambah keimanannya di dalam hatinya kecuali keteguhan, seperti teguhnya gunung. Tahunpun bergulir berganti tahun. Kemudian wanita itu datang dengan membawa anaknya yang sedang memegang roti. Dia

berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!”

Dia dan keadaannya sungguh sangat menakjubkan! Iman yang bagaimanakah yang membuatnya berbuat demikian. Tiga tahun lebih atau kurang, yang demikian tidaklah menambahnya kecuali kekuatan iman.

Nabi mengambil anaknya, seakan-akan beliau membelah hati wanita tersebut dari antara kedua lambungnya. Akan tetapi ini adalah perintah Allah, keadilan langit, kebenaran yang dengannya kehidupan akan tegak.

Nabi bersabda: “Siapa yang mengkafil (mengurusi) anak ini, maka dia adalah temanku di sorga seperti ini…” Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam.

Dalam sebuah riwayat bahwa Nabi memerintahkan agar wanita itu dirajam, kemudian beliau menshalatinya. Maka berkatalah Umar : “Anda menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina.” Maka beliau bersabda:

“Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah ?” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya ini adalah rasa takut kepada Allah. Sesungguhnya itu adalah perasaan takut yang terus menerus berada pada diri wanita mukminah tersebut saat dia terjerumus ke dalam jerat-jerat syetan, dia menjawab jerat-jerat tersebut pada saat lemah. Ya, dia telah berbuat dosa, akan tetapi dia

berdiri dari dosanya dengan hati yang dipenuhi oleh iman, dan jiwa yang digerakkan oleh panasnya maksiat. Ya, dia telah berdosa, akan tetapi telah berdiri pada hatinya tempat pengagungan terhadap Dzat yang dia bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya ini adalah taubat sejati wahai hamba-hamba Allah.

 

Ya, ini taubat nashuha wahai hamba-hamba Allah.

 

 

 

Pentingnya Kejujuran

 

Seseorang bertanya kepada Nabi Muhamamd SAW, “Ya Rasulullah, terangkan kepadaku, apa yang paling berat dan apa yang paling ringan dalam beragama Islam?”

Nabi bersabda, “Yang paling ringan dalam beragama Islam adalah membaca syahadat atau kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah.”

Adapun yang paling berat adalah hidup jujur (dapat dipercaya). “Sesungguhnya, tidak ada agama bagi orang yang tidak jujur. Bahkan, tidak ada shalat dan tidak ada zakat bagi mereka yang tidak jujur.” (HR Ahmad Bazzar).

Kalau seseorang itu beriman, mestinya ia orang yang jujur. Kalau tidak jujur, berarti tidak beriman. Kalau orang rajin shalat, mestinya ia juga jujur. Kalau tidak jujur, berarti sia-sadalah shalatnya. Kalau orang sudah berzakat, mestinya ia juga jujur. Kalau tidak jujur, berarti zakatnya tidak memberi dampak positif bagi dirinya.

Anas RA berkata, “Dalam hampir setiap khutbahnya, Nabi SAW selalu berpesan tentang kejujuran.” Lalu, Anas mengutip sabda Rasulullah. “Tidak ada iman bagi orang yang tidak jujur. Tidak ada agama bagi orang yang tidak konsisten memenuhi janji.”

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu bicara dusta, berjanji palsu, dan ia berkhianat jika mendapat amanat (tidak jujur).” (HR Bukhari).

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda “Ada empat sikap yang kalau ada pada diri seseorang maka yang bersangkutan adalah munafik tulen, yaitu kalau dapat amanat, ia berkhianat (tidak jujur); kalau berkata, selalu bohong; kalau berjanji, janjinya palsu; kalau berbisnis, licik.” (HR Bukhari Muslim).

Orang jujur itu disayangi Allah. Sebaliknya, orang yang tidak jujur dimurkai Allah SWT. Kejujuran menjadi salah satu sifat utama para Nabi, salah satu akhlak penting orang-orang yang saleh.

Kejujuran adalah kunci keberkahan. Kalau kejujuran sudah hilang di tengah-tengah masyarakat, keberkahan akan hilang pula. Apabila keberkahan sudah hilang, kehidupan menjadi kering, hampa tanpa makna.

Ketika kehidupan diwarnai dengan kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dan kekecewaan… Bisa jadi semua itu datang karena ada yang telah hilang dari diri kita: kejujuran.

Sumber: https://nitafitria.wordpress.com/2010/06/23/kejujuran-itu-mahal/ dengan revisi.

Seminar Pra Nikah Bersama Muzammil Hasballah

 

Alhamdulillah, Syukur kepada Allah SWT atas karuniaNYA, acara Seminar Pra Nikah bersama Ust Muzammil Hasballah, Randy’s Family, dan Ust H Azka Ummah Lc Dipl MA berjalan dengan Lancar dan Berkah.

300 muda mudi Lebih menghadiri acara yang bertajuk “ Menjemput Jodoh Impian “ ini, Ust Muzammil menjelaskan tentang pengalaman beliau ketika menjemput jodoh, begitu Pula Randy, seorang Aktivis Media Sosial yang menceritakan kisah nya tentang menjemput jodoh.

Ust Azka alumni Madinah University menjelaskan bagaimana islam mengajarkan kepada kita cara menjemput Jodoh, harus diawali dengan hal yang baik dan diridhoi Allah, yaitu Ta’aruf. Beliau menjelaskan tata cara Ta’aruf yang benar agar menjadi Jodoh Impian.

Semoga acara ini memotivasi muda mudi yang akan segera menyempurnakan setengah agamanya.(Abah)